Jadi
Home » News » Petani Merauke Keluhkan Pupuk hingga Pestisida

Petani Merauke Keluhkan Pupuk hingga Pestisida

Senin, 28 Februari 2022 05:34

Penulis : Emanuel Eman Riberu
Editor : Redaktur
Tanaman Padi di salah satu lahan di Merauke. Foto by Emanuel Eman Riberu
1610009175

JPSejumlah petani di Kabupaten Merauke, kembali mengeluhkan masalah pupuk, yang ketersediaannya kurang dan juga penyalurannya terlambat kepada petani setempat.

Masalah pupuk bukan persoalan baru di tingkat petani Merauke. Ketersediaan penyubur atau nutrisi tanaman ini kerap dikeluhkan setiap tahun, karena kuotanya kurang dari luasan lahan yang ada.

Salah seorang petani di Kampung Waninggap Miraf, Distrik Tanah Miring, Frans mengatakan bahwa di tahun ini pupuk yang disalurkan pemerintah sangat terlambat. Selain itu, jatahnya kurang, sehingga tidak dapat mencukupi lahan padi yang ada.

“Tiap tahun masalah yang kami hadapi itu terkait pupuk yang selalu kurang, lalu juga selalu terlambat dibagikan,” kata Frans kepada media ini, Senin (28/2/2022).

Frans pun meminta kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pertanian Merauke agar mengatasi persoalan dimaksud, sehingga produktivitas tanaman padi ke depan bisa lebih baik.

Masalah serupa disampaikan Sumardino, petani padi dari Kampung Yabamaru, Distrik Tanah Miring.

“Pupuk itu bukannya ditambah, malah sekarang berkurang,” ungkap Sumardino.

Selain itu, pupuk baru disalurkan pemerintah ketika padi sudah berusia 2-3 bulan. Seharusnya, pemupukan sudah dilakukan sebanyak dua kali sebelum padi berusia sebulan.

“Padi sudah tinggi, pupuk baru datang. Itu pun dua sak, mana cukup. Bagaimana hasil bisa baik kalau telat, dan kuotanya kurang,” celetuknya.

Selain pupuk, obat-obatan seperti pestisida juga menjadi persoalan di tingkat petani. Pestisida sangat dibutuhkan, terutama saat padi diserang hama.

“Bicara pupuk itu sudah biasa, sudah sering disampaikan. Tapi yang belum pernah disampaikan oleh petani saya itu pestisida, obat-obatan,” kata petugas PPL Tanah Miring, Sugiyanto.

Sugiyanto menerangkan, pestisida dahulunya disubsidi oleh pemerintah, namun sekarang tidak lagi. Petani terpaksa membeli obat hama tersebut secara mandiri.

“Sekali beli pestisida, mereka keluarkan uang Rp500 ribu. Pas terserang hama, baik kalau dia punya uang, tapi kalau tidak?” katanya.

Ia menambahkan, ada bantuan pestisida dari Dinas Pertanian setempat, tapi jumlahnya tidak cukup dengan kebutuhan yang diperlukan.

“Kita tentu harapkan pemerintah membantu petani dengan kembali memberikan subsidi obat hama,” imbuhnya.

Tags :

iklan03

Berita Terkait

Rekomendasi